Jumat, 18 November 2011

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.  Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.  Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.  Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.  Waktu terus berlalu.  Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.  Suatu hari ia mendatangi pohon apel.  Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
 "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,"  jawab anak lelaki itu.  "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." 
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
 Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.  Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.  Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.  Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
 "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
            "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.  "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
            "Duh, maaf aku pu n tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
            Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
             Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.  Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
             Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.  Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
             "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.
             "Aku sedih," kata anak lelaki itu.  "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
             "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat k apal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."
            Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.  Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.  Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
             "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
            "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
  "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,"  kata pohon apel.
              "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
             "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata p ohon apel itu sambil menitikkan air mata.
             "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.  "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
             "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat.   Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
             Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.  Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
             Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi tanpa kita sadari, terkadang, begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita dan mintalah maaf padanya apabila kita pernah menyakitinya karena ada hadist yang mengatakan : “Ridhonya orang tua adalah ridhonya Allah dan murkanya orang tua adalah murkanya Allah”
#diambil dari sebuah milis

Kamis, 13 Januari 2011

(✖╭╮✖') HANYA PELANGI (✖╭╮✖')


“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan.
 “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi.
Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan.        
Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini.
Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka.

Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda.
“ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan.                           
 “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggak papa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini.                         
Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. *Huft.. ayo bicara Tito!* aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati.                             
Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia??                        
Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika.                         
Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin.                             
Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”.                       
Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama.                             
Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh.                               Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku.                               Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga  tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit.                              
Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.”
Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar -  benar dipenuhi haru hari ini,                              
Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini.                               
 “Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA”                           
Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana?                                
Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama.     “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih.          
     
“ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?”  tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan  heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.”                             
Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini.                            
Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi.

Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish.     Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!”                                
Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku!                                
Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi.                                  
Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata  aku sudah mati.                                 
Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit?             Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya??                           
“Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi datang kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”.                           
Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang.                       Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi :  “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling  gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?”      
Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo”                        

Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia.     
Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.

Selasa, 11 Januari 2011

(✖╭╮✖')LESBIAN(✖╭╮✖')

•‧✽‧•(JATUH CINTA PADA HUJAN)•‧✽‧•

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa pada saya. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya senang bersenandung kecil saat sedang menjemur cucian di siang hari. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya juga sering merajut kala matahari mulai tenggelam dan saya tak menemukan pekerjaan lain untuk dikerjakan. Kala semua selimut sudah terlipat rapi, semua perkakas sudah dicuci, dan burung hantu mulai berjaga diselingi lolongan anjing.
Dan seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya jatuh cinta. Cinta yang kadang membuat dada terasa sesak penuh rindu, dan getaran yang menjalari rona merah di pipi yang tersenyum malu-malu. Dan kali ini, saya jatuh cinta pada Hujan.
****
Saya nyaris lupa kapan tepatnya saya jatuh cinta. Yang saya ingat, saat itu desa kecil kami dilanda kemarau panjang. Sudah berbulan-bulan lamanya Hujan tidak turun mengguyur. Sawah-sawah berpetak yang semula menghijau segar mulai kering dan pecah-pecah. Sementara air sungai terus menyusut. Karena itu, air betul-betul dihemat pemakaiannya. Yang utama adalah air minum, sisanya baru menyusul. Kami sampai lupa, kapan terakhir kalinya kami mandi dan mencuci.
Menurut Mak Sani, dukun terkenal di desa kami, Hujan sedang bosan. Tentu saja, pernyataan Mak Sani itu membuat geger para warga kampung.
“Hujan bosan? Bagaimana mungkin ia bisa bosan? Ia adalah Hujan, yang seharusnya membawa kesegaran!,” teriak seorang warga. Sementara warga lainnya mulai berteriak lebih kencang, Mak Sani mengangkat tangannya.
“Diam semuaa!!!, ” katanya. Dan seperti biasa, kalau Mak Sani sudah berbicara, maka tak ada seorang pun berani buka mulut.
“Tentu saja Hujan bisa bosan. Dia juga hidup, dia juga punya perasaan. Selama ini dia sudah mendatangkan banyak berkah untuk kita, dia menyuburkan sawah kita, dia mengaliri sungai-sungai kita, dia memuaskan dahaga kita, sementara apa yang kita berikan buat dia?, ” lanjut Mak Sani.
“Lalu bagaimana caranya? Apa yang bisa kita berikan buat hujan?, ” cetus seorang warga.
Mak Sani berdehem sedikit. “Ehm, begini, kemarin saya sempat bicara dengan Hujan. Katanya, dia butuh seorang wanita untuk menemaninya. Dan wanita itu haruslah perawan yang berambut panjang,” tutur Mak Sani panjang lebar.
Dan seketika seluruh mata memandang pada saya.
***
Tentu saja, saya bukan satu-satunya gadis yang perawan di desa. Tapi sejak ada salon Bu Marni, para gadis seperti berlomba untuk memotong rambutnya.
“Kan rambut pendek sekarang lagi tren. Masa kamu nggak bosan, tiap hari harus melumuri rambutmu dengan merang? Belum lagi kalau siang, gerah!,” ujar Atik, yang paling modern diantara kami.
Tapi saya tetap bertahan dengan rambut sepinggang. Saya paling suka menyisir rambut, merasakan sisir yang meluncur dari akar rambut sampai pinggang saya. Saya suka merasakan helai-helai rambut di leher, pundak, dan punggung, saat saya berbaring tidur. Karena itu, saya tak segan melumurinya dengan merang sampai hitam berkilat. Memberinya telur dan lidah buaya, agar ia tumbuh subur. Bagi saya, rambut ini adalah permata. Tapi sekarang, gara-gara rambut panjang sialan ini, saya malah ditumbalkan untuk Hujan.
Hari ini, saya memakai kebaya yang terbagus. Tadinya Atik dan Bu Marni ingin merias wajah saya, tapi dilarang oleh Mak Sani.
“Hujan paling benci segala yang buatan. Sisirlah rambutmu sampai berkilat, dan tunggulah di puncak bukit,” begitu pesan Mak Sani.
Disini, diatas bukit inilah saya menunggu Hujan. Dalam hati, saya mengutuki salon Bu Marni dan teman-teman yang telah memotong pendek rambutnya. Saya bisa merasakan tangan ini mulai basah oleh keringat. Dibawah, tampak para warga desa sedang menatap langit dengan wajah penuh harap. Semua sedang menunggu datangnya keajaiban.
Satu menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas menit. Untuk mengusir sepi, saya mulai bersenandung lirih. Tembang-tembang Jawa yang dulu sering dinyanyikan almarhum Ibu untuk menidurkan saya.
Seketika, mulai terdengar suara guruh di kejauhan. Tak lama, Hujan turun. Mula-mula gerimis, kemudian turun menderas. Katanya, ia terpesona mendengar nyanyian saya. Saat itu, saya cuma bisa tersipu mendengar pujiannya.
Sementara di bawah, seluruh warga bersorak-sorai. Hujan turun sampai sore. Dan malamnya, warga desa berpesta semalam suntuk. Ratusan ucapan selamat dan terima kasih datang bertubi-tubi pada saya.
“Terima kasih Raya! Kau telah menyelamatkan desa kita!, ” begitu ujar mereka. Dan saya cuma tersenyum, lalu kemudian diam-diam menyingkir pulang.
Kebaya saya masih lembab sisa terguyur Hujan. Saya masih ingat, tetesannya yang membelai rambut saya, sambil membisikkan kekaguman atas senandung saya. Pelan, saya cium kebaya saya. Masih ada bau segar Hujan disana. Dan malam itu, saya tertidur memeluk sehelai kebaya basah, sambil berharap bisa bertemu Hujan lagi…
***
Esoknya, ternyata Hujan turun lagi. Tetesannya yang merdu di genting membuat saya seketika terjaga.
“Maaf membangunkanmu sepagi ini. Tapi aku merindukanmu Raya,” bisiknya lembut.
Dan saya langsung lari keluar rumah. Di halaman, saya membentangkan tangan selebar-lebarnya, agar Hujan bisa memeluk saya. Ia pun menyambut pelukan saya. Hujan turun makin deras. Setiap tetesnya bercerita tentang kerinduannya. Pada nyanyian saya, pada rambut saya, pada wajah saya yang tersipu. Dan di tengah derasnya Hujan, saya mulai bernyanyi. Semula hanya senandung lirih, yang makin lama makin kencang. Sementara Hujan mulai reda. Saya tahu, dia sedang mendengarkan.
“Terima kasih. Aku tahu, kamu pasti mau melakukannya,” bisiknya, lalu mengecup bibir saya.
***
Semenjak pagi itu, Hujan makin sering datang. Kadang ia datang di tengah malam, saat para warga yang terjaga sudah mematikan lampu terakhir. Kadang, ia datang di pagi buta, saat hari masih berkabut, sementara anak-anak masih mendengkur pulas dan meringkuk nyaman dalam hangatnya buaian selimut.
Saat-saat seperti itu, saya selalu keluar rumah. Sambil bersenandung pelan, saya akan memeluknya dalam gerimis. Dan setiap kali tubuh saya sudah terlalu basah, Hujan akan mengingatkan saya untuk segera masuk ke rumah dan menghangatkan diri.
“Kalau terlalu basah dan kedinginan, kamu bisa sakit. Masuklah. Aku akan menemanimu di luar, sampai kau tertidur,” begitu katanya.
Dan tepat setelah saya menutup pintu, angin akan berhembus lembut di tengah gerimis. Saya tersenyum. Sekarang, dia yang sedang bernyanyi untuk saya. Diatas tempat tidur yang hangat, saya akan berbaring diam-diam mendengarkan. Saya tahu, Hujan tak akan berhenti sebelum saya tertidur pulas.
Keesokan paginya, helai-helai daun yang basah dan genangan air yang becek, meninggalkan jejak, bahwa Hujan telah terjaga semalaman. Dan saya tahu, dia tidak berdusta.
*****
Toh seperti pasangan kekasih lainnya, kami juga punya masalah. Kali ini masalah itu datang dari gunjingan orang-orang kampung. Bermula dari keluhan para ibu, yang cuciannya sering tak kering. Dilanjutkan dengan keluhan sejumlah penduduk yang terserang flu, dan sejumlah petani yang gagal panen, karena cuaca yang kelewat lembab untuk tanaman mereka.
Gunjingan itu datang dengan berbagai bentuk. Saat langit mulai mendung, mereka akan mulai menatap sinis dan mencibir. Lalu mereka akan pulang ke rumah, menutup semua pintu. Berbisik-bisik lewat sela-sela dinding bambu rumah mereka yang rapuh. Saya bisa mendengarnya.
Tapi tidak demikian halnya dengan Hujan.
Dengan butanya, ia terus saja datang. Dan seperti pasangan yang sedang kasmaran, kami pun mabuk dengan cinta. Setiap kali melihatnya, mendengarnya, merasakannya, saya tahu bahwa hanya saat inilah yang terpenting. Bahwa dalam dunia kami yang kecil dan sederhana, hanya ada saya dan dia. Mabuk karena cinta. Rindu karena cinta. Buta, tuli, karena cinta. Menggila karena cinta.
Ya, hanya ini yang terpenting….
*****
“Mak Sani, bagaimana ini, Hujan kok makin sering datang!” teriak seorang warga saat rapat desa.
”Iya, kita semua sudah bilang sama Raya. Tapi dia tetep aja nggak peduli. Masa dia enak-enak pacaran, kitanya kebanjiran!” tandas warga lainnya.
”Pokoknya, keadaan ini tidak boleh berlarut-larut! Kita harus ambil tindakan! Kita harus tegas!” cetus seorang pemuda, yang dikuti oleh sorak-sorai warga.
Dan Mak Sani cuma bisa mengangguk lemah.
*****
”Bagaimana Mak Sani, semua siap?” tanya Kepala Desa.
Mak Sani menoleh pada saya, yang terikat pada sebuah tiang kayu. Di bawah kaki saya, ada bertumpuk-tumpuk kayu bakar dan ranting kering. Di kejauhan, tampak beberapa pemuda membawa jerigen-jerigen bensin.
”Siap,” ujar Mak Sani, sambil menggenggam erat sebungkus korek api.
Ia mulai menyalakan koreknya. Sementara, mata saya tak lepas menatapnya. Saya tidak pernah menyalahkannya. Saya juga tidak menyalahkan para warga. Toh, kami hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Itu saja.
Saat api mulai menjilat kaki saya, sekilas saya mendengar Mak Sani berbisik.
”Maafkan saya Raya, saya terpaksa. Kalau saya tidak melakukan ini, mereka akan mengusir saya. Ma…..,” bisik Mak Sani.
Saya tidak sempat mendengar lanjutan kalimatnya. Saya cuma bisa melihat lidah api berkobar-kobar di sekeliling saya, sorak sorai warga, dan rasa rindu yang tak tertahankan pada satu-satunya kekasih saya. Pelan-pelan, saya bersenandung. Untuknya, hanya untuknya.
Toh, kami hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Itu saja. Itu saja…
*****
Sore itu tetes Hujan yang terakhir memadamkan api unggun di balai desa. Sayangnya, ia terlambat. Api unggun terlanjur hanya menyisakan seonggok mayat perempuan yang sudah menghitam. Hujan memeluk kekasihnya, memanggilnya, memerciki wajahnya dengan air dingin. Tapi kekasihnya tetap tak bergeming.
Malamnya, Hujan berduka. Ia turun luar biasa deras, seolah-olah ingin menenggelamkan seisi desa. Guruh menggelegar, sementara angin ribut meraung-raung. Tapi bila warga kampung itu sungguh-sungguh mendengarkan, maka akan terdengar tangis duka Hujan yang menyayat memilukan. Tangis duka yang mengiringi kepergian kekasihnya. Satu-satunya kekasihnya.
Malam itu juga sekaligus malam yang tak akan pernah terlupakan oleh warga kampung itu. Itulah malam terakhir mereka bisa merasakan tetes hujan. Karena sejak malam itu, Hujan tak pernah lagi turun disana.
*****